Menguji Kecerdasan Cinta
Cinta adalah salah satu kata yang mungkin paling sering didengar, diucapkan, dirasakan, difikirkan dan diekspresikan oleh manusia. Anak kecil, remaja, orang dewasa sampai orang tua pun tidak asing dengan kata cinta. Semua orang membicarakan, merindukan, meraih bahkan memperebutkan cinta. Anehnya, meskipun tidak ada manusia yang tidak mengenal cinta, namun sampai sekarang belum ada manusia yang mampu memberikan pengertian dan makna cinta yang memuaskan. Cinta adalah sesuatu yang jelas keberadaannya tapi sulit dijelaskan maknanya. Nampaknya belum ada sebuah definisi yang definitif tentang cinta. Cinta adalah sebuah misteri. Entah berapa syair yang digubah, lagu yang didendangkan, novel yang ditulis dan difilmkan, sinetron, telenovela, ketoprak, lundruk dan lain-lain media budaya, toh tetap saja tidak mampu menjelas-tuntaskan makhluk apa yang namanya cinta.
Tempat-tempat seperti rumah, sekolah, kampus, pantai, hotel, hutan, pinggir-pinggir jalan, restoran bahkan tempat ibadah pun tetap menjadi saksi bisu ketika harus berhadapan dengan cinta. Yang sedih, yang cengeng, yang manja, yang stres, yang gila, yang putus sekolah/kuliah, yang di-PHK, yang difitnah, yang murtad, yang terusir pun tidak mampu memaknai cinta. Bahkan entah sudah berapa korban yang bergelimpangan mulai yang dirayu, ditipu, diperkosa, yang hamil tanpa pertanggungjawaban, yang dibunuh dan yang dicincang tetap saja cinta menjadi sebuah rahasia.
Karena cinta adalah persoalan kita, kebutuhan kita, bahkan cinta adalah nafas kita, rasanya tidak pantas jika kita putus asa untuk mencoba mengenalnya. Film terlaris tahun 2002, ’’Ada Apa dengan Cinta’’ pun mungkin akan menambah kekecewaan dan kebingungan kita untuk memahami cinta karena kita terang-terangan ditipu dan dieksploitir habis-habisan dikarenakan mereka tahu atas kepenasaran kita tentang cinta. Para ahli pun berusaha maksimal untuk membantu agar bisa memahami dan mensyukuri cinta dengan benar. Kalau para seniman lebih sering mendrmatisir cinta maka para ulama, filsuf, psikologi, dan lain-lain berusaha untuk memahami cinta secara rasional. Diantara sekian banyak pakar yang membahas cinta misalnya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam buku bertajuk ’’Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu’’, Abdullah Nasih Ulwan dalam buku ’’Manajemen Cinta’’, Erich Fromm dalam buku ’’Seni Mencintai / The Art of Loving’’, Leone Ebroe dalam ’’The Fhilosophy of Love’’, bahkan Abdurrasyid Ridho, alumnus IAIN Sunan Kalijaga tahum 1996 lulus dengan skripsi berjudul ’’Memasuki Makna Cinta’’.
Dari kita mendengar, melihat, membaca bahkan mengalami, ada kesepakatan pemahaman bahwa cinta adalah mekanisme hati; ungkapan ‘’Dari mana datangnya lintah, dari darat turun ke kali, dari mana datangnya cinta dari mata turun kehati’’ menunjukkan pengalaman kita dalam menerima cinta. Lambang cinta sering diwujudkan dalam bentuk daun waru warna merah sebagai simbol hati. Ketika seorang ibu melihat anaknya jatuh cinta, nalurinya muncul sehingga perlu berpesan ’’hati-hati’’ ya …. Ekspresi penyanyi maupun artis jika tampil membawakan lagu cinta atau akting bercinta selalu memegang dada dan bukan kepala, sehingga Ibnul Qayyim pun pernah mengutip sepenggal syair cinta ’’Angan-angan tentang dirimu selalu ada di mataku, ingatan dirimu selau ada di mataku, tempat kembalimu ada dihatiku, tetapi kemana gerangan engkau hilang dariku?’’
Jika cinta diakui sebagai makanisme hati, lantas mekanisme yang bagaimana? Rasulullah s.a.w. melukiskan hati manusia sebagaimana dalam sabdanya, ‘’Ingatlah sesungguhnya didalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, apabila rusak, maka , maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati’’ (HR Bukhari muslim ). Bimbo pun dalam lagunya melantunkan ’’Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berpadu’’. Maka tidak salah kalau kita tegaskan ’’Hati adalah tempayan tempat cinta dan benci bersembayan.’’ Jika hati tempat bersemayamnya cinta dan benci, maka kita bisa memaknai bahwa cinta adalah mekanisme hati yang berkembang secara positif sehingga mampu mengantarkan penghayatannya, mengembangkan prasangka baik (husnudzon / positive thingking).
Lawan cinta adalah benci, yaitu mekanisme hati yang berkembang secara negatif sehingga membuat penghayatnya mengembangkan prasangka buruk (su’udzon / negative thingking). Karena itu cinta sering juga melahirkan logika terbalik, ’’Kalau cinta sudah lengket tahi kucing pun rasa coklat’’, ‘’yen wis kadhung tresna, wingka katon kencana’’.